Polresta Kediri Gelar Pasukan Operasi Ketupat Semeru 2018 dan Pemusnahan Miras Digelar di Mako Brimob

Tribratanews Polresta Kediri – Giat Apel Gelar Pasukan Ops Ketupat Semeru 2018 Polresta Kediri dan pemusnahan barang bukti miras hasil Operasi  Pekat Semeru 2018. Semua kegiatan dipusatkan di Mako Brimob Kediri Jl Veteran Kota Kediri.

 

 

Rangkaian kegiaatan diawali dengan persiapan pasukan , dilanjuutkan apel Gelar Pasukan Operasi Ketupat Semeru 2018, pemeriksaan kendaraan dinas dilanjutan hasil Operasi Pekat Semeru 2018. Kegiatan apel dan pemusnahan barang bukti miras sebanyak 2.625 botol setara dengan 900 liter dipimpin langsung oleh Kapolresta Kediri AKBP Anthon Haryadi, S.IK, M.H.

 

 

 

Hadir dalam Kapolresta Kediri AKBP  Anthon Haryadi, S.I.K, M.H,  Wakapolresta Kediri , Pejabat Utama , Kapolsek Jajaran Polresta Kediri, Forkopimda. Danki Kompi C Brimob Kediri, Dan Yon 521, Kasdim 0809 Kediri, Dishub Kota Kediri, Kepala BNN Kota Kediri, Kemenag Kota Kediri Perwakilan Toga dan  Tomas Kota Kediri

 

 

 

Sementara apel ini melibatkan pasukan antara lain  1 Regu PM, 2 Sst TNI,  2 Sst Brimob , 2 Sst Lantas, 2 Sst Sabhara, 4 Sst Gabungan Polsek Jajaran, 1 Sst Intel, 1 Sst Reskrim, 1 Sst Dishub, 1 Sst Satpol PP, 1 Sst Banser, 1 Sst Senkom, 1 Sst Saka Bhayangkara

 

 

“ Operasi ini sebagai salah satu operasi kepolisian terpusat, Operasi Ketupat Semeri  Tahun 2018 diselenggarakan secara serentak di seluruh Indonesia selama 18 hari mulai tanggal 7 –  24 Juni 2018. Operasi ini melibatkan personel pengamanan gabungan yang terdiri dari unsur Polri, TNI, Pemda, serta stakeholders terkait dan elemen masyarakat lainnya,” kata AKBP Anthon Haryadi, S.IK, M.H

 

Masih disampaikan AKBP Anthon dalam membacakan amanat Kapolri Prof. H. Muhammad Tito Karnavian, Ph.D. Rencana operasi disusun melalui serangkaian evaluasi terhadap pelaksanaan Operasi Ramadniya pada tahun 2017 disertai analisa potensi gangguan kamtibmas di tahun 2018.

 

Sehingga pada pelaksanaan operasi tahun ini, setidaknya terdapat 4 potensi kerawanan yang harus diwaspadai bersama.Potensi kerawanan pertama adalah stabilitas harga danketersediaan bahan pangan. Pada tahun 2017 secara umumstabilitas harga pangan dapat terjaga dan tidak terjadikelangkaan bahan pangan.

 

Hal itu dapat diwujudkan berkatkerjasama dari semua instansi terkait seperti KementerianPertanian, Kementerian Perdagangan, Bulog, Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU), maupun Satgas Pangan Polri.Pada tahun ini, potensi permasalahan masih berkisarpada masalah distribusi pangan, upaya penimbunan oleh kelompok kartel / mafia pangan, maupun perilaku negatif pelaku usaha yang menaikkan harga di atas harga yang ditetapkan.Oleh sebab itu, diperlukan kerja sama dan langkah proaktif dari stakeholders terkait guna mengatasi hal ini.

 

 

Potensi kerawanan kedua adalah permasalahan kelancaran dan keselamatan arus mudik dan arus balik. Hasil survey jalan yang dilaksanakan oleh Korlantas Polri bersamaKementerian Perhubungan, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Kementerian Kesehatan, mau pun DinasJasa Marga, dan Pertamina, mendapati sekurangnya terdapat enam lokasi rawan macet pada jalur utama mudik lebaran. Sehubungan dengan hal tersebut, saya memberikan penekanan kepada seluruh personel terutama pada titik rawanmacet dan titik rawan kecelakaan, agar benar-benar melakukan pemantauan secara cermat.

 

Berbagai strategi bertindak yangtelah ditetapkan agar diikuti dengan baik. Optimalkan pelayanan pada 3.097 Pos Pengamanan, 1.112 Pos Pelayanan, 7 Pos

Terpadu, dan 12 Pos Check Point yang tergelar selama penyelenggaraan operasi.

 

Potensi kerawanan ketiga yang juga harus diantisipasi adalah potensi bencana alam dan gangguan kamtibmas lainnya, seperti curat, curas, curanmor, copet, pencurian rumah kosong,

begal, dan hipnotis. Untuk itu, para Kasatwil diharapkan dapat mengambil langkah pre-emtif maupun preventif yang diperlukan sehingga bisa menekan potensi yang ada. Saya juga berharap, agar seluruh Kasatwil dapat terus menerus berkoordinasi dengan pihak Basarnas, BMKG, dan pihak terkait lainnya, dalam upaya mengantisipasi dan mewaspadai potensi bencana alam.

 

 

Dan potensi kerawanan keempat adalah, ancaman tindak pidana terorisme. Guna mengantisipasi potensi aksi terorisme, “Kita tekankan  deteksi intelijen yang diimbangi dengan upaya penegakan hukum secara tegas (preemtif strike), melalui optimalisasi peran Satgas Anti Teror di seluruh Polda jajaran,” tambahnya. (res|aro)


    

bagikan artikel ini.Share on Facebook0Share on Google+0Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn0